Tampilkan postingan dengan label JABAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JABAR. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Juni 2017

Ridwan Kamil: Jangan kaget kalau saya enggak jadi maju Pilgub Jabar

Raja Swedia dan Ridwan Kamil di Bandung. ©REUTERS/Darren Whiteside
Sejak awal Ridwan Kamil tidak malu-malu menyatakan kesiapannya maju sebagai calon gubernur dalam Pilkada Jabar 2018. Sejak resmi diusung Partai NasDem, pria yang akrab disapa Emil ini semakin rajin blusukan ke sejumlah daerah di Jawa Barat setiap akhir pekan.
Dukungan lima kursi Partai NasDem di Jawa Barat memang belum cukup mengantarkannya maju ke arena Pilgub Jabar. Sebab syarat calon yang diusung oleh parpol yakni 20 persen jumlah kursi di DPRD Jabar atau 20 kursi.
"Karena mau maju, jadi calonnya juga belum pasti yah. Kan baru 5 kursi dari 20, jadi masih ikhtiar," ujar Emil kepada wartawan, Jumat (9/6).
Emil tidak menutup kemungkinan gagal bertarung di Pilgub Jabar. Sebab sesuai dengan peraturan dari KPU, jika syarat parpol tidak mencukupi maka otomatis tidak bisa mengusung calon.
"Jadi saya mentalnya gubernur dan kembali jadi warga. Kalau Bandung (kembali jadi wali kota) sudah tutup. Jangan kaget kalau Saya enggak jadi maju (Pilgub). Kalau enggak jadi maju, Saya pensiun saja, jadi arsitek," ungkapnya.
Emil berusaha untuk bisa ikut bertarung di ajang Pilgub Jabar. Dia mengaku terus melakukan komunikasi dengan sejumlah partai politik untuk mendapatkan dukungan. Termasuk dengan PKS dan Gerindra. Namun lantaran situasinya tidak sesuai dengan yang diharapkan, kemungkinan untuk diusung oleh dua partai tersebut sangatlah kecil.
"Kan dari awal Saya ini ngobrol dulu ke PKS, ngobrol dulu ke Gerindra. Jawabannya tidak sesuai dengan situasi yang saya harapkan. Satu mendahulukan kader Bu Netty-Syaiku. Saya mah bukan kader selesai. Kedua Gerindra minta jadi anggota, kan belum bisa. Ibu saya melarang dulu masuk anggota. Jadi mana saja sekarang, Saya mah ikut mengalir saja kayak air," ucapnya. Sumber : www.merdeka.com

Jumat, 31 Maret 2017

Inilah 7 Nama Tokoh yang Diprediksi Maju di Pilgub Jabar 2018

Genderang  Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat 2018 mulai terasa. Para tokoh Jabar yang mumpuni sudah mulai dipasangkan. Salah satunya seperti yang dilontarkan Pengamat Politik dan Ilmu Pemerintahan, Asep Warlan Yusuf, yang menyinggung nama Netty Heryawan, istri Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, sebagai sosok yang akan maju di Pilgub Jawa Barat 2018.
Grafis

1. Netty Heryawan Istri Gubernur Jabar
2. Deddy Mizwar Wagub Jabar
3. Ridwan Kamil Wali Kota Bandung
4. Wali Kota Bogor Bima Arya
5. Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi
6. Ketua DPD PDIP Jabar Tubagus Hasanuddin
7. Pengurus DPD PDIP Jabar Gatot Tjahjono

Dia mengaku sudah mendengar selentingan, Netty akan menjadi calon wakil gubernur pendamping Deddy Mizwar yang saat ini menjabat Wakil Gubernur Jabar, pada perhelatan politik tersebut.

Asep mengatakan, meski Pilgub Jabar akan berlangsung sekitar dua tahun lagi, tetapi di tataran isu sudah muncul beberapa nama tokoh yang akan maju. Selain Netty dan Deddy Mizwar, Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil pun dikabarkan didorong untuk ikut serta.

Selain itu, Wali Kota Bogor Bima Arya, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, Ketua DPD PDIP Jabar Tubagus Hasanuddin dan Pengurus DPD PDIP Gatot Tjahjono, serta sejumlah nama tokoh lainnya juga dikabarkan akan bertarung menggantikan Ahmad Heryawan untuk gubernur/wakil gubernur Jabar periode 2018-2022.

“Memang peta sekarang belum terlihat jelas, masih dalam tahap diam-diam, bisik-bisik, ngumpul-ngumpul, ngobrol-ngobrol. Nah di kumpulan-kumpulan pembicaraan itu ternyata masih belum terlihat siapa yang banyak dibicarakan, misalnya Deddy Mizwar. Bahkan dia sudah digadang-gadang dengan Bu Netty sebagai wakil gubernur, kitu cenah (katanya),” papar Asep kepada wartawan saat dihubungi, Senin (8/2).

Dia menilai, dari segi ketokohan, nama-nama yang disebut-sebut itu semua cukup mumpuni untuk bertarung di pilgub. Namun kekuatan profil saja tidak cukup, masih banyak faktor lain yang harus dipenuhi, seperti menyusun program kerja yang cerdas, kemampuan membangun tim sukses, kekuatan dana, serta sejumlah faktor pendukung lainnya.

“Jadi tergantung juga nih. Kalau dilihat dari kekuatan dana, Deddy Mizwar, Tubagus Hasanuddin, Ridwan Kamil, tidak akan sulit lah bertarung di Pilgub Jabar. Begitu juga tim sukses yang dibentuk, pendukungnya siapa saja yang akan memajukan dia,” katanya.

Sementara itu, Asep menyebut, idealnya jumlah pasangan yang akan maju dalam Pilgub Jabar maksimal tiga pasang.

“Tapi sepertinya tahun ini akan ramai betul nih, banyak forum yang bisa menggodok-godok, menggadang-gadang itu. Mudah-mudahan tidak lebih dari tiga pasang,” pungkasnya. Sumber jabar.pojoksatu.id

Selasa, 28 Maret 2017

Ini Prediksi Cagub Jabar 2018

Debat paslon Pilkada Jabar 2013
Isu SARA dipastikan tidak akan muncul dalam Pilkada Jawa Barat (Jabar) 2018. Hal ini ditegaskan oleh Sekretaris DPD Partai Demokrat Jawa Barat Herlas Juniar dalam diskusi yang digelar Indonesia Strategic Institute (Instrat) di Bandung, baru-baru ini.
Dalam diskusi bertema Potret Relijiusitas dan Toleransi di Jawa Barat, Herlas menyebut masyarakat Jabar memiliki sisi ketaatan religius yang kuat, dan cenderung tidak bereaksi selama tidak diusik. Kondisi ini berbeda dengan Pilkada DKI Jakarta di mana isu SARA dijadikan strategi politik oleh salah satu paslon.
“Saya tidak sepakat di Pilkada DKI itu isu SARA yang muncul. Isu itu sengaja dimunculkan untuk strategi politik,” tegas anggota DPRD Jabar ini.
Sebelumnya, Instrat telah merilis survei bertema Masa Depan Panggung Kepemimpinan Jawa Barat. Survei itu menemukan Deddy Mizwar (94%), Dede Yusuf (89,7%), dan Desy Ratnasari (86,9%) sebagai tiga besar sosok calon pemimpin Jabar terpopuler.
Instrat juga telah merilis enam nama yang diprediksi dapat menjadi bakal cagub Jabar ke depan. Berdasarkan tingkat elektabilitasnya, mereka adalah Walikota Bandung Ridwan Kamil, Wagub Jabar Deddy Mizwar Ketua Komisi IX DPR RI Dede Yusuf Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum dan Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto. Sumber politiktoday.com

Minggu, 26 Maret 2017

Prediksi Pilgub Jabar Hanya Empat Calon

Pemilihan Gubernur Jawa barat 2018 memang masih agak lama setahun lagi. Namun pemetaan calon gubernur serta calon wakil gubernur saat ini sudah mulai muncul dari instansi survey. Meskipun banyak nama telah mengemuka, namun diprediksikan Pilgub Jawa barat tidka lebih dari empat paslon (pasangan calon).
“Berdassarkan darta dari analisis potensi pasangan serta koalisi parpol ini diprediksikan tidak lebih dari empat pasangan calon, ” tegas Ketua PSPK Unpad Muradi, dalam diskusi umum yang bertema ‘Magnet Pilkada Jawa barat 2018’, di Centropunto Cafe, Jalan Trunojoyo, Kota Bandung, Sabtu 25 Maret 2017.
Pada survey yang juga dihadiri pemateri Dosen Prodi Ilmu Pemerintahan Idil Akbar serta dosen FSIP dari Universitas Parahyangan Leo Agustino, Muradi ini mengucurkan  10 nama yaitu Ridwan Kamil, Dedi Mulyadi, Deddy Mizwar, Anton Charliyan, Bima Arya, Puti Guntur, Netty Heryawan, TB Hasanudin, Dede Yusuf serta Agung Suryamal.
Beberapa nama tersebut muncul berdasarkan dari data  grafik info di media-media.  ” Beberapa nama tersebut memang selama tiga bulan terakhir terkespos di berbagai kabar berita yang kuat. Namun untuk yang paling banyak kabar berita dari Ridwan Kamil dengan 7. 271 berita yang ditemukan di media online, ” jelasnya seraya menyebutkan tehnik survey  dengan  cara kualitatif.
Selain tidak lebih dari empat pasang calon, sambung dia,untuk demokrasi di Jawa barat ini diprediksikan tak lagi diikuti pasangan calon yang dari independent. Dengan ketentuan yang sudah disepakati mengumpulkan sebesar tiga% KTP yang didapatan dari jumlah masyarakat yang ada, itupun dinilai sebagai hal tidak mungkin dari waktu yang hanya kurang dari 1 tahun.
“Untuk sekarang ini memasuki bulan Maret akhir dan sebentar lagi bulan April. Sedang kita harus segera mengumpulkan KTP hingga bulan Desember dengan jumlah yang diprediksikan hingga dua juta. Hal ini jelas sangat berat, ” katanya. Menempuh jalan independent  menurut dia memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. ” Bila bersama dengan Parpol-kan dia mengeluarkan biaya yang sedikti namun jika bersama (parpol) yang sudah memiliki pijakan yang kuat. Akan tetapi jika independent wah itu akan sangat mahal sekali. ”
Mengambil langkah independent juga menurut dia sangat susah untuk Ridwan Kamil bila menginginkan untuk memilih jalur itu. ” sebab itu sangat mahal biayanya, serta waktunya juga sangat terbatas yang akan menambah biaya lagi dalam pelaksanaannya, ” tambah dia.
Dalam survey tersebut dari pihak PSPK Unpad tetap akan mengajukan Ridwan Kamil, Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi yang diprediksikan bisa berkompetisi ketat menuju kursi Jawa Barat satu.
Peluang Ridwal Kamil Dalam Pilgub Jabar
Dari data pengamat politik dari Kampus Airlangga, Muhammad Asfar, beliau menilainya justru saat ini sebagai sangat waktu yang pas, baik dari Ridwan Kamil ataupun Partai Nasdem jika ingin mendeklarasikan support serta maju dalam Pilgub Jawa Barat.
Asfar juga mengatakan, dari segi popularitas serta elektabilitas, Ridwan Kamil sejauh ini masih ‘kalah’ dari petahana seperti Wagub Deddy Mizwar, yang akan maju dalam pilgub.
Ridwan Kamil memiliki popularitas di golongan kelas menengah ke atas serta di sosial media namun ‘belum hingga ke level grassroots yang di akses dari media sosialnya begitu rendah’, terang Asfar.
Akan tetapi, popularitas Ridwan Kamil saat ini memang memiliki rating tinggi di sosial media yang bisa jadi modal besaruntuk maju dalam pemilihan Gubernur. Sumber seword.com

Minggu, 19 Maret 2017

Usung Ridwan Kamil, Partai NasDem Klaim Hindari Politik Mahar

Partai NasDem akan mengusung Wali Kota Bandung Ridwan Kamil pada Pilkada Jawa Barat tahun 2018. Mereka yakin, pengalaman Ridwan memimpin Bandung selama lima tahun akan menhindarkan mereka dari politik mahar.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Nasdem Jawa Barat Saan Mustopa menyebut partainya mendukung Ridwan semata-mata karena pertimbangan kinerja, bukan perhitungan materi. Ia berkata, NasDem berkomitmen tidak menerapkan politik transaksional.

"Kepala daerah korupsi karena biaya politik tinggi. NasDem ingin mengurangi beban politik kepala daerah," ucap Mustofa pada acara deklarasi NasDem untuk Ridwan di Bandung, Minggu (19/3).
Lihat juga:Golkar Bakal Usung Bupati Dedi Mulyadi di Pilkada Jabar
Saan menuturkan, NasDem telah berkomunikasi dengan Partai Gerindra, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Amanat Nasional untuk menjajaki koalisi mengusung Ridwan pada Pilkada Jabar 2018. Ia berkata, NasDem akan lebih intensif membuka jaringan untuk Ridwan setelah deklarasi Ahad ini.

Baca juga: Ridwan Kamil Dapat Dukungan Nasdem, Ini Kata Dedi Mulyadi

Berdasarkan pasal 40 ayat (1) UU 10/2016 tentang Pilkada, hanya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang bisa mengusung pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur Jawa Barat tanpa berkoalisi dengan partai lain. Alasannya, PDIP kini memiliki 20 kursi di DPRD Jawa Barat.
Lihat juga:Siap Ikut Pilkada Jabar, Ridwan Kamil Tunggu Pinangan Parpol
Pada pemilihan legislatif Jawa Barat 2014, Golkar berada di urutan kedua dengan raihan 17 kursi. Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sosial berada di posisi berikutnya, masing-masing dengan 12 kursi. Di luar empat partai itu, Gerindra memiliki 11 kursi, PPP (9), PKB (7), NasDem (5), dan PAN (4). 

Jika koalisi yang dijajaki NasDem berujung pada kesepakatan, diakumulasi, gabungan Nasdem, Gerindra, PKB, PPP dan PAN akan memiliki modal 36 kursi. 
Mustofa mengatakan, sebagai partai pertama yang menyatakan dukungan untuk Ridwan jelang Pilkada Jawa Barat 2018, NasDem belum akan menutup kemungkinan koalisi dengan partai manapun. Kami membangun komunikasi dengan semua partai," ujarnya.

Pada pemilihan wali kota Bandung tahun 2013, Ridwan dan pasangannya, Oded Muhammad Danial, diusung Gerindra dan PKS. Kala itu mereka meraih 45,24 suara, unggul jauh dari tujuh pasangan lain yang berpartisipasi pada pilkada tersebut. sumber cnnindonesia.com

Program 'Taman' Ridwan Kamil atau 'Larangan Pacaran' Dedi Mulyadi?

Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi (Foto: Instagram: Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi)
Bursa gubernur Jawa Barat mulai memanas. Beberapa nama mulai bermunculan yang diusung oleh berbagai Partai Politik. Teranyar adalah pemberitaan pencalonan Ridwan Kamil oleh Partai Nasdem dan Dedi Mulyadi yang diusung oleh Partai Golkar.
Para Partai pendukung mengatakan bahwa yakin bahwa masing-masing nama yang mereka usung akan sukses memimpn provinsi Jawa Barat.
Kedua nama yang rencanannya akan diusung ini sama-sama memiliki profil yang memadai sebagai seorang pemimpin. kumparan (kumparan.com) mencoba untuk membeberkan profil dari masing-masing nama tersebut.
Profil dan Karier Politik
Ridwan Kamil
Pria bernama lengkap Mochamad Ridwan Kamil, S.T, atau sering di sebut Kang Emil ini merupakan putra daerah kelahiran Bandung 10 Oktober 1971. Kang Emil lulus dari jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung di tahun 1995, sempat bekerja di Amerika Serikat, dirinya kemudian melanjutkan kuliah S-2 di sana dengan bantuan beasiswa di University of California, Berkeley. Sebelum terjun ke dunia politik, Ridwan Kamil terlebih dulu mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa konsultan perencanaan, arsitektur dan desain di tahun 2004. Barulah di tahun 2013 Ridwan Kamil mulai merambah ke dunia politik dengan pencalonannya di pemilihan Wali Kota Bandung periode 2013-2018. Saat itu Ridwan Kamil yang dipasangkan dengan Oded Muhammad Danial berhasil unggul dari ketujuh pasangan lainnya dengan meraih 45,24% suara.
Dedi Mulyadi Sedangkan Dedi Mulyadi atau sering disapa Kang Dedi ini merupakan kelahiran Subang, 11 April 1971. Dedi Mulyadi menempuh pendidikan hukum di kampus Sekolah Tinggi Hukum Purnawarman Purwakarta. Debut pertama Dedi terjun di dunia politik adalah saat dirinya terpiih menjadi anggota dewan DPRD Purwakarta tahun 1999. Karier politiknya meningkat usai terpilih menjadi Wakil Bupati Purwakarta periode 2003-2008 bersama Lily Hambali Hasan. Barulah di tahun 2008, Dedi mencalonkan diri di pemilihan Bupati Purwakarta dan berhasil menjadi Bupati Purwakarta pertama yang dipilih langsung oleh masyarakat. Dedi kembali berhasil menjabat untuk kedua kalinya sebagai Bupati setelah di tahun 2013 kembali memenangi pemilihan Bupati Purwakarta periode 2013-2018.
Dedi Mulyadi vs Ridwan Kamil
Dedi Mulyadi vs Ridwan Kamil (Foto: Instagram/@dedimulyadi71 dan @ridwankamil)
Kebijakan Soal kepemimpinan, dua sosok ini sama-sama memiliki keunikan masing-masing dalam proses mereka memimpin daerah. Kang Emil dikenal dengan sifatnya yang rendah hati dan pembawaannya yang luwes serta sering kali mengundang tawa dinilai berhasil menyentuh seluruh warga Bandung. Sedangkan Kang Dedi sendiri dianggap memiliki pendekatan yang humanis dan sama seperti Kang Emil yang memiliki sifat rendah hati mampu membuatnya dicintai oleh warganya. Kebijakan-kebijakan yang mereka keluarkan pun acap kali mendapatkan apresiasi sekaligus kontrovesi. Ridwan Kamil Diawal menjadi Wali Kota, Ridwan Kamil memberikan beberapa gagasannya yang menonjol ketika itu adalah program "Selasa Tanpa Rokok", konsep rumah tanpa asap rokok, dan yang paling berani, wacana pengharaman reklame rokok di seluruh sudut Kota Bandung. Wacana kontroversial tersebut akhirnya menuai jalan terjal. Pembahasan, perdebatan, dan lobi antara Pemkot dengan DPRD Kota Bandung berlangsung tak kurang dari dua tahun. Pada akhirnya gagasan pelarangan total itu rontok. Namun dirinya lantas tidak menyerah begitu saja, kewenangannya membuat Perwal (Peraturan Wali Kota) dijadikan senjata pamungkas untuk mengunci kebijakan penyelenggaraan reklame rokok di Kota Bandung. Sampai saat ini dirinya masih tetap memperjuangkan gagasannya tersebut. Program lain yang termasuk dalam program inovasi telah melahirkan beberapa hasil yang dinilai bermanfaat untuk masyarakat dengan membangun taman-taman tematik yang berhasil menjadi ruang publik, seperti Taman Jomblo dan Taman Film. Dedi Mulyadi Dedi Mulyadi sendiri dinilai memiliki kebijakan-kebijakan yang berani dan terkadang menuai kontrovesi. Salah satu kebijakannya adalah anak usia sekolah dilarang berada di luar rumah lebih dari pukul 21.00 WIB. Sebagai upaya untuk menertibkannya, pemerintah telah memasang CCTV di tiap-tiap sudut desa. Tim khusus pun disiapkan untuk memantau kegiatan warga termasuk para pelajar ini. Dedi Mulyadi sempat membuat gebrakan dengan menerapkan kebijakan berupa larangan berpacaran atau bertamu di atas jam 9 malam. Bagi pelanggar, atau masyarakat yang tidak patuh terhadap aturan tersebut, akan dihukum secara adat. Misalnya dengan diusir dari desanya dalam beberapa bulan, atau membayar denda dengan nominal yang ditentukan. Dedi dan Ridwan sebenarnya sama-sama berusaha untuk membangun daerah yang bebas dari rokok. Lain hal dengan Ridwan, Dedi melakukan sidak gigi dan mulut di sekolah-sekolah. Melalui sidak ini, akan diperiksa kebersihan gigi dan mulut para pelajar, apakah ditemukan zat nikotin dan zat lain dalam rokok yang masih tersisa pada bagian gigi dan mulut mereka atau tidak. Selain itu, akan dikontrol juga kondisi kesehatannya untuk mengecek apakah mereka masih merupakan perokok aktif atau tidak.
Gaya Berpakaian
Baik Ridwan Kamil maupun Dedi Mulyadi memiliki keunikan dalam gaya berpakaian. Mereka sering terlihat mengenakan pakaian khas daerah di beberapa kesempatan baik itu saat di kantor dinas ataupun saat berada di lapangan.
Ridwan Kamil
Sejalan dengan program yang dibentuk oleh Ridwan Kamil yaitu Rebo Nyunda atau Rabu Sunda. Dirinya sering kali terlihat menggunakan pakaian khas sunda baik di kantor maupun saat turun ke lapangan. Ridwan Kamil biasanya menggunakan pakain serba hitam dilengkapi dengan ikat sunda. Namun, Ridwan Kamil pun sering terlihat menggenakan peci hitam saat sedang bertugas di kantor maupun saat turun ke lapangan.

Dedi Mulyadi
Hampir sama dengan Ridwan Kamil, Dedi selalu menggunakan pakaian khas Sunda, berupa baju dan celana pangsi, serta tak pernah menanggalkan ikat kepala yang selalu dia kenakan dikesempatan apapun. Hanya saja ikat kepala yang digunakan oleh Dedi identik dengan warna putih. Dedi pernah menjelaskan makna dari pakaian pangsi adalah cermin sifat yang terbuka serta gerakan yang luas. Sedangkan iket (ikat kepala) merupakan keterikatan pikiran oleh hati.

Partai Politik Pengusung
Ridwan Kamil
Saat memulai karier politiknya sebagai wali kota Bandung, Ridwan Kamil yang saat itu dipasangakan dengan Oded Muhammad Danial di usung oleh Partai Gerindra dan PKS. Kini Partai Nasdem mengabarkan bahwa akan mengusung Ridwan Kamil sebagai calon Gubernur Jawa Barat 2018 dan akan mendeklarasikan namanya pada hari Minggu (19/3).
Dedi Mulyadi
Dedi Mulyadi sejatinya merupakan kader Partai Golkar, dirinya merupakan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Golkar Jawa Barat. Selain itu, pada pemilihan Bupati Purwakarta 2012 silam dirinya pun diusung oleh partai Golkar.
Di Pilgub Jawa Barat tahun depan, Dedi akan kembali diusung oleh partainya sebagai lawan RIdwan Kamil yang juga diproyeksikan sebagai calon Gubernur Jawa Barat 2018.
Mellihat sepak terjang keduanya sebagai pemimpin di daerah masing-masing. Siapakah pilihanmu? sumber kumparan.com