![]() |
| Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi (Foto: Instagram: Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi) |
Bursa gubernur Jawa Barat mulai memanas. Beberapa nama mulai bermunculan yang diusung oleh berbagai Partai Politik. Teranyar adalah pemberitaan pencalonan Ridwan Kamil oleh Partai Nasdem dan Dedi Mulyadi yang diusung oleh Partai Golkar.
Para Partai pendukung mengatakan bahwa yakin bahwa masing-masing nama yang mereka usung akan sukses memimpn provinsi Jawa Barat.
Kedua nama yang rencanannya akan diusung ini sama-sama memiliki profil yang memadai sebagai seorang pemimpin. kumparan (kumparan.com) mencoba untuk membeberkan profil dari masing-masing nama tersebut.
Profil dan Karier Politik
Ridwan Kamil
Pria bernama lengkap Mochamad Ridwan Kamil, S.T, atau sering di sebut Kang Emil ini merupakan putra daerah kelahiran Bandung 10 Oktober 1971. Kang Emil lulus dari jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung di tahun 1995, sempat bekerja di Amerika Serikat, dirinya kemudian melanjutkan kuliah S-2 di sana dengan bantuan beasiswa di University of California, Berkeley. Sebelum terjun ke dunia politik, Ridwan Kamil terlebih dulu mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa konsultan perencanaan, arsitektur dan desain di tahun 2004. Barulah di tahun 2013 Ridwan Kamil mulai merambah ke dunia politik dengan pencalonannya di pemilihan Wali Kota Bandung periode 2013-2018. Saat itu Ridwan Kamil yang dipasangkan dengan Oded Muhammad Danial berhasil unggul dari ketujuh pasangan lainnya dengan meraih 45,24% suara.
Para Partai pendukung mengatakan bahwa yakin bahwa masing-masing nama yang mereka usung akan sukses memimpn provinsi Jawa Barat.
Kedua nama yang rencanannya akan diusung ini sama-sama memiliki profil yang memadai sebagai seorang pemimpin. kumparan (kumparan.com) mencoba untuk membeberkan profil dari masing-masing nama tersebut.
Profil dan Karier Politik
Ridwan Kamil
Pria bernama lengkap Mochamad Ridwan Kamil, S.T, atau sering di sebut Kang Emil ini merupakan putra daerah kelahiran Bandung 10 Oktober 1971. Kang Emil lulus dari jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung di tahun 1995, sempat bekerja di Amerika Serikat, dirinya kemudian melanjutkan kuliah S-2 di sana dengan bantuan beasiswa di University of California, Berkeley. Sebelum terjun ke dunia politik, Ridwan Kamil terlebih dulu mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa konsultan perencanaan, arsitektur dan desain di tahun 2004. Barulah di tahun 2013 Ridwan Kamil mulai merambah ke dunia politik dengan pencalonannya di pemilihan Wali Kota Bandung periode 2013-2018. Saat itu Ridwan Kamil yang dipasangkan dengan Oded Muhammad Danial berhasil unggul dari ketujuh pasangan lainnya dengan meraih 45,24% suara.
Dedi Mulyadi Sedangkan Dedi Mulyadi atau sering disapa Kang Dedi ini merupakan kelahiran Subang, 11 April 1971. Dedi Mulyadi menempuh pendidikan hukum di kampus Sekolah Tinggi Hukum Purnawarman Purwakarta. Debut pertama Dedi terjun di dunia politik adalah saat dirinya terpiih menjadi anggota dewan DPRD Purwakarta tahun 1999. Karier politiknya meningkat usai terpilih menjadi Wakil Bupati Purwakarta periode 2003-2008 bersama Lily Hambali Hasan. Barulah di tahun 2008, Dedi mencalonkan diri di pemilihan Bupati Purwakarta dan berhasil menjadi Bupati Purwakarta pertama yang dipilih langsung oleh masyarakat. Dedi kembali berhasil menjabat untuk kedua kalinya sebagai Bupati setelah di tahun 2013 kembali memenangi pemilihan Bupati Purwakarta periode 2013-2018.
![]() |
| Dedi Mulyadi vs Ridwan Kamil (Foto: Instagram/@dedimulyadi71 dan @ridwankamil) |
Kebijakan Soal kepemimpinan, dua sosok ini sama-sama memiliki keunikan masing-masing dalam proses mereka memimpin daerah. Kang Emil dikenal dengan sifatnya yang rendah hati dan pembawaannya yang luwes serta sering kali mengundang tawa dinilai berhasil menyentuh seluruh warga Bandung. Sedangkan Kang Dedi sendiri dianggap memiliki pendekatan yang humanis dan sama seperti Kang Emil yang memiliki sifat rendah hati mampu membuatnya dicintai oleh warganya. Kebijakan-kebijakan yang mereka keluarkan pun acap kali mendapatkan apresiasi sekaligus kontrovesi. Ridwan Kamil Diawal menjadi Wali Kota, Ridwan Kamil memberikan beberapa gagasannya yang menonjol ketika itu adalah program "Selasa Tanpa Rokok", konsep rumah tanpa asap rokok, dan yang paling berani, wacana pengharaman reklame rokok di seluruh sudut Kota Bandung. Wacana kontroversial tersebut akhirnya menuai jalan terjal. Pembahasan, perdebatan, dan lobi antara Pemkot dengan DPRD Kota Bandung berlangsung tak kurang dari dua tahun. Pada akhirnya gagasan pelarangan total itu rontok. Namun dirinya lantas tidak menyerah begitu saja, kewenangannya membuat Perwal (Peraturan Wali Kota) dijadikan senjata pamungkas untuk mengunci kebijakan penyelenggaraan reklame rokok di Kota Bandung. Sampai saat ini dirinya masih tetap memperjuangkan gagasannya tersebut. Program lain yang termasuk dalam program inovasi telah melahirkan beberapa hasil yang dinilai bermanfaat untuk masyarakat dengan membangun taman-taman tematik yang berhasil menjadi ruang publik, seperti Taman Jomblo dan Taman Film. Dedi Mulyadi Dedi Mulyadi sendiri dinilai memiliki kebijakan-kebijakan yang berani dan terkadang menuai kontrovesi. Salah satu kebijakannya adalah anak usia sekolah dilarang berada di luar rumah lebih dari pukul 21.00 WIB. Sebagai upaya untuk menertibkannya, pemerintah telah memasang CCTV di tiap-tiap sudut desa. Tim khusus pun disiapkan untuk memantau kegiatan warga termasuk para pelajar ini. Dedi Mulyadi sempat membuat gebrakan dengan menerapkan kebijakan berupa larangan berpacaran atau bertamu di atas jam 9 malam. Bagi pelanggar, atau masyarakat yang tidak patuh terhadap aturan tersebut, akan dihukum secara adat. Misalnya dengan diusir dari desanya dalam beberapa bulan, atau membayar denda dengan nominal yang ditentukan. Dedi dan Ridwan sebenarnya sama-sama berusaha untuk membangun daerah yang bebas dari rokok. Lain hal dengan Ridwan, Dedi melakukan sidak gigi dan mulut di sekolah-sekolah. Melalui sidak ini, akan diperiksa kebersihan gigi dan mulut para pelajar, apakah ditemukan zat nikotin dan zat lain dalam rokok yang masih tersisa pada bagian gigi dan mulut mereka atau tidak. Selain itu, akan dikontrol juga kondisi kesehatannya untuk mengecek apakah mereka masih merupakan perokok aktif atau tidak.
Gaya Berpakaian
Baik Ridwan Kamil maupun Dedi Mulyadi memiliki keunikan dalam gaya berpakaian. Mereka sering terlihat mengenakan pakaian khas daerah di beberapa kesempatan baik itu saat di kantor dinas ataupun saat berada di lapangan.
Ridwan Kamil
Sejalan dengan program yang dibentuk oleh Ridwan Kamil yaitu Rebo Nyunda atau Rabu Sunda. Dirinya sering kali terlihat menggunakan pakaian khas sunda baik di kantor maupun saat turun ke lapangan. Ridwan Kamil biasanya menggunakan pakain serba hitam dilengkapi dengan ikat sunda. Namun, Ridwan Kamil pun sering terlihat menggenakan peci hitam saat sedang bertugas di kantor maupun saat turun ke lapangan.
Dedi Mulyadi
Hampir sama dengan Ridwan Kamil, Dedi selalu menggunakan pakaian khas Sunda, berupa baju dan celana pangsi, serta tak pernah menanggalkan ikat kepala yang selalu dia kenakan dikesempatan apapun. Hanya saja ikat kepala yang digunakan oleh Dedi identik dengan warna putih. Dedi pernah menjelaskan makna dari pakaian pangsi adalah cermin sifat yang terbuka serta gerakan yang luas. Sedangkan iket (ikat kepala) merupakan keterikatan pikiran oleh hati.
Partai Politik Pengusung
Ridwan Kamil
Saat memulai karier politiknya sebagai wali kota Bandung, Ridwan Kamil yang saat itu dipasangakan dengan Oded Muhammad Danial di usung oleh Partai Gerindra dan PKS. Kini Partai Nasdem mengabarkan bahwa akan mengusung Ridwan Kamil sebagai calon Gubernur Jawa Barat 2018 dan akan mendeklarasikan namanya pada hari Minggu (19/3).
Dedi Mulyadi
Dedi Mulyadi sejatinya merupakan kader Partai Golkar, dirinya merupakan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Golkar Jawa Barat. Selain itu, pada pemilihan Bupati Purwakarta 2012 silam dirinya pun diusung oleh partai Golkar.
Di Pilgub Jawa Barat tahun depan, Dedi akan kembali diusung oleh partainya sebagai lawan RIdwan Kamil yang juga diproyeksikan sebagai calon Gubernur Jawa Barat 2018.
Mellihat sepak terjang keduanya sebagai pemimpin di daerah masing-masing. Siapakah pilihanmu? sumber kumparan.com



Tidak ada komentar:
Write komentar