Tampilkan postingan dengan label Ridwan Kamil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ridwan Kamil. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Maret 2017

Usung Ridwan Kamil, Partai NasDem Klaim Hindari Politik Mahar

Partai NasDem akan mengusung Wali Kota Bandung Ridwan Kamil pada Pilkada Jawa Barat tahun 2018. Mereka yakin, pengalaman Ridwan memimpin Bandung selama lima tahun akan menhindarkan mereka dari politik mahar.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Nasdem Jawa Barat Saan Mustopa menyebut partainya mendukung Ridwan semata-mata karena pertimbangan kinerja, bukan perhitungan materi. Ia berkata, NasDem berkomitmen tidak menerapkan politik transaksional.

"Kepala daerah korupsi karena biaya politik tinggi. NasDem ingin mengurangi beban politik kepala daerah," ucap Mustofa pada acara deklarasi NasDem untuk Ridwan di Bandung, Minggu (19/3).
Lihat juga:Golkar Bakal Usung Bupati Dedi Mulyadi di Pilkada Jabar
Saan menuturkan, NasDem telah berkomunikasi dengan Partai Gerindra, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Amanat Nasional untuk menjajaki koalisi mengusung Ridwan pada Pilkada Jabar 2018. Ia berkata, NasDem akan lebih intensif membuka jaringan untuk Ridwan setelah deklarasi Ahad ini.

Baca juga: Ridwan Kamil Dapat Dukungan Nasdem, Ini Kata Dedi Mulyadi

Berdasarkan pasal 40 ayat (1) UU 10/2016 tentang Pilkada, hanya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang bisa mengusung pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur Jawa Barat tanpa berkoalisi dengan partai lain. Alasannya, PDIP kini memiliki 20 kursi di DPRD Jawa Barat.
Lihat juga:Siap Ikut Pilkada Jabar, Ridwan Kamil Tunggu Pinangan Parpol
Pada pemilihan legislatif Jawa Barat 2014, Golkar berada di urutan kedua dengan raihan 17 kursi. Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sosial berada di posisi berikutnya, masing-masing dengan 12 kursi. Di luar empat partai itu, Gerindra memiliki 11 kursi, PPP (9), PKB (7), NasDem (5), dan PAN (4). 

Jika koalisi yang dijajaki NasDem berujung pada kesepakatan, diakumulasi, gabungan Nasdem, Gerindra, PKB, PPP dan PAN akan memiliki modal 36 kursi. 
Mustofa mengatakan, sebagai partai pertama yang menyatakan dukungan untuk Ridwan jelang Pilkada Jawa Barat 2018, NasDem belum akan menutup kemungkinan koalisi dengan partai manapun. Kami membangun komunikasi dengan semua partai," ujarnya.

Pada pemilihan wali kota Bandung tahun 2013, Ridwan dan pasangannya, Oded Muhammad Danial, diusung Gerindra dan PKS. Kala itu mereka meraih 45,24 suara, unggul jauh dari tujuh pasangan lain yang berpartisipasi pada pilkada tersebut. sumber cnnindonesia.com

Program 'Taman' Ridwan Kamil atau 'Larangan Pacaran' Dedi Mulyadi?

Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi (Foto: Instagram: Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi)
Bursa gubernur Jawa Barat mulai memanas. Beberapa nama mulai bermunculan yang diusung oleh berbagai Partai Politik. Teranyar adalah pemberitaan pencalonan Ridwan Kamil oleh Partai Nasdem dan Dedi Mulyadi yang diusung oleh Partai Golkar.
Para Partai pendukung mengatakan bahwa yakin bahwa masing-masing nama yang mereka usung akan sukses memimpn provinsi Jawa Barat.
Kedua nama yang rencanannya akan diusung ini sama-sama memiliki profil yang memadai sebagai seorang pemimpin. kumparan (kumparan.com) mencoba untuk membeberkan profil dari masing-masing nama tersebut.
Profil dan Karier Politik
Ridwan Kamil
Pria bernama lengkap Mochamad Ridwan Kamil, S.T, atau sering di sebut Kang Emil ini merupakan putra daerah kelahiran Bandung 10 Oktober 1971. Kang Emil lulus dari jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung di tahun 1995, sempat bekerja di Amerika Serikat, dirinya kemudian melanjutkan kuliah S-2 di sana dengan bantuan beasiswa di University of California, Berkeley. Sebelum terjun ke dunia politik, Ridwan Kamil terlebih dulu mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa konsultan perencanaan, arsitektur dan desain di tahun 2004. Barulah di tahun 2013 Ridwan Kamil mulai merambah ke dunia politik dengan pencalonannya di pemilihan Wali Kota Bandung periode 2013-2018. Saat itu Ridwan Kamil yang dipasangkan dengan Oded Muhammad Danial berhasil unggul dari ketujuh pasangan lainnya dengan meraih 45,24% suara.
Dedi Mulyadi Sedangkan Dedi Mulyadi atau sering disapa Kang Dedi ini merupakan kelahiran Subang, 11 April 1971. Dedi Mulyadi menempuh pendidikan hukum di kampus Sekolah Tinggi Hukum Purnawarman Purwakarta. Debut pertama Dedi terjun di dunia politik adalah saat dirinya terpiih menjadi anggota dewan DPRD Purwakarta tahun 1999. Karier politiknya meningkat usai terpilih menjadi Wakil Bupati Purwakarta periode 2003-2008 bersama Lily Hambali Hasan. Barulah di tahun 2008, Dedi mencalonkan diri di pemilihan Bupati Purwakarta dan berhasil menjadi Bupati Purwakarta pertama yang dipilih langsung oleh masyarakat. Dedi kembali berhasil menjabat untuk kedua kalinya sebagai Bupati setelah di tahun 2013 kembali memenangi pemilihan Bupati Purwakarta periode 2013-2018.
Dedi Mulyadi vs Ridwan Kamil
Dedi Mulyadi vs Ridwan Kamil (Foto: Instagram/@dedimulyadi71 dan @ridwankamil)
Kebijakan Soal kepemimpinan, dua sosok ini sama-sama memiliki keunikan masing-masing dalam proses mereka memimpin daerah. Kang Emil dikenal dengan sifatnya yang rendah hati dan pembawaannya yang luwes serta sering kali mengundang tawa dinilai berhasil menyentuh seluruh warga Bandung. Sedangkan Kang Dedi sendiri dianggap memiliki pendekatan yang humanis dan sama seperti Kang Emil yang memiliki sifat rendah hati mampu membuatnya dicintai oleh warganya. Kebijakan-kebijakan yang mereka keluarkan pun acap kali mendapatkan apresiasi sekaligus kontrovesi. Ridwan Kamil Diawal menjadi Wali Kota, Ridwan Kamil memberikan beberapa gagasannya yang menonjol ketika itu adalah program "Selasa Tanpa Rokok", konsep rumah tanpa asap rokok, dan yang paling berani, wacana pengharaman reklame rokok di seluruh sudut Kota Bandung. Wacana kontroversial tersebut akhirnya menuai jalan terjal. Pembahasan, perdebatan, dan lobi antara Pemkot dengan DPRD Kota Bandung berlangsung tak kurang dari dua tahun. Pada akhirnya gagasan pelarangan total itu rontok. Namun dirinya lantas tidak menyerah begitu saja, kewenangannya membuat Perwal (Peraturan Wali Kota) dijadikan senjata pamungkas untuk mengunci kebijakan penyelenggaraan reklame rokok di Kota Bandung. Sampai saat ini dirinya masih tetap memperjuangkan gagasannya tersebut. Program lain yang termasuk dalam program inovasi telah melahirkan beberapa hasil yang dinilai bermanfaat untuk masyarakat dengan membangun taman-taman tematik yang berhasil menjadi ruang publik, seperti Taman Jomblo dan Taman Film. Dedi Mulyadi Dedi Mulyadi sendiri dinilai memiliki kebijakan-kebijakan yang berani dan terkadang menuai kontrovesi. Salah satu kebijakannya adalah anak usia sekolah dilarang berada di luar rumah lebih dari pukul 21.00 WIB. Sebagai upaya untuk menertibkannya, pemerintah telah memasang CCTV di tiap-tiap sudut desa. Tim khusus pun disiapkan untuk memantau kegiatan warga termasuk para pelajar ini. Dedi Mulyadi sempat membuat gebrakan dengan menerapkan kebijakan berupa larangan berpacaran atau bertamu di atas jam 9 malam. Bagi pelanggar, atau masyarakat yang tidak patuh terhadap aturan tersebut, akan dihukum secara adat. Misalnya dengan diusir dari desanya dalam beberapa bulan, atau membayar denda dengan nominal yang ditentukan. Dedi dan Ridwan sebenarnya sama-sama berusaha untuk membangun daerah yang bebas dari rokok. Lain hal dengan Ridwan, Dedi melakukan sidak gigi dan mulut di sekolah-sekolah. Melalui sidak ini, akan diperiksa kebersihan gigi dan mulut para pelajar, apakah ditemukan zat nikotin dan zat lain dalam rokok yang masih tersisa pada bagian gigi dan mulut mereka atau tidak. Selain itu, akan dikontrol juga kondisi kesehatannya untuk mengecek apakah mereka masih merupakan perokok aktif atau tidak.
Gaya Berpakaian
Baik Ridwan Kamil maupun Dedi Mulyadi memiliki keunikan dalam gaya berpakaian. Mereka sering terlihat mengenakan pakaian khas daerah di beberapa kesempatan baik itu saat di kantor dinas ataupun saat berada di lapangan.
Ridwan Kamil
Sejalan dengan program yang dibentuk oleh Ridwan Kamil yaitu Rebo Nyunda atau Rabu Sunda. Dirinya sering kali terlihat menggunakan pakaian khas sunda baik di kantor maupun saat turun ke lapangan. Ridwan Kamil biasanya menggunakan pakain serba hitam dilengkapi dengan ikat sunda. Namun, Ridwan Kamil pun sering terlihat menggenakan peci hitam saat sedang bertugas di kantor maupun saat turun ke lapangan.

Dedi Mulyadi
Hampir sama dengan Ridwan Kamil, Dedi selalu menggunakan pakaian khas Sunda, berupa baju dan celana pangsi, serta tak pernah menanggalkan ikat kepala yang selalu dia kenakan dikesempatan apapun. Hanya saja ikat kepala yang digunakan oleh Dedi identik dengan warna putih. Dedi pernah menjelaskan makna dari pakaian pangsi adalah cermin sifat yang terbuka serta gerakan yang luas. Sedangkan iket (ikat kepala) merupakan keterikatan pikiran oleh hati.

Partai Politik Pengusung
Ridwan Kamil
Saat memulai karier politiknya sebagai wali kota Bandung, Ridwan Kamil yang saat itu dipasangakan dengan Oded Muhammad Danial di usung oleh Partai Gerindra dan PKS. Kini Partai Nasdem mengabarkan bahwa akan mengusung Ridwan Kamil sebagai calon Gubernur Jawa Barat 2018 dan akan mendeklarasikan namanya pada hari Minggu (19/3).
Dedi Mulyadi
Dedi Mulyadi sejatinya merupakan kader Partai Golkar, dirinya merupakan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Golkar Jawa Barat. Selain itu, pada pemilihan Bupati Purwakarta 2012 silam dirinya pun diusung oleh partai Golkar.
Di Pilgub Jawa Barat tahun depan, Dedi akan kembali diusung oleh partainya sebagai lawan RIdwan Kamil yang juga diproyeksikan sebagai calon Gubernur Jawa Barat 2018.
Mellihat sepak terjang keduanya sebagai pemimpin di daerah masing-masing. Siapakah pilihanmu? sumber kumparan.com

Ridwan Kamil Dapat Dukungan Nasdem, Ini Kata Dedi Mulyadi

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (16/3/2017)
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi turut senang mendengar kabar Ridwan Kamil yang sudah mendapatkan tiket dari Partai Nasdem untuk maju dalam pemilihan gubernur Jawa Barat 2018 mendatang.

"Enggak apa-apa, bagus," kata Dedi di Jakarta, Kamis (16/3/2017).
Dedi mengakui ia saat ini belum mendapatkan dukungan dari satu pun parpol, termasuk dari Partai Golkar tempatnya bernaung.
Namun, Dedi mengatakan, ia memang belum pernah membicarakan niat maju dalam Pilkada Jabar dengan parpol mana pun.
"Termasuk di internal partai saya sendiri. Saya sebagai bupati memilih bekerja saja lah sampai hari ini. Ada pekerjaan yang harus kita tuntaskan sehingga kebutuhan publik lebih terjawab dibanding dengan masuk dalam wacana Pilkada," ucap Dedi.
Dedi menambahkan, saat ini ia tengah mengukur diri apakah bisa memimpin Jawa Barat yang mempunyai penduduk hingga 46 juta jiwa dan lebih dari 6.000 desa. Dedi juga tidak mau terlalu berpatokan dengan hasil survei.
"Sudah dua kali pilgub, pemegang survei tertinggi selalu kalah dan menjadi yang ketiga. Berangkat dari situ kita harus cermat membaca fluktuasi masyarakat Jabar, apalagi sekarang era media sosial dimana masyarakat bisa mudah berubah pikiran," ucap Dedi.
(Baca juga: Gelar Deklarasi Dukungan, Partai Nasdem Akan Arak Ridwan Kamil)
Partai Nasdem memastikan bakal mendeklarasikan dukungan kepada Wali Kota Bandung Ridwan Kamil untuk maju pada Pilkada Jawa Barat 2018.
Ketua DPP Partai Nasdem Johnny G Plate menyatakan bahwa deklarasi akan dilakukan di Bandung, akhir pekan ini.
"Nasdem akan memberikan dukungan pada tokoh Jawa Barat yang dinilai mampu mengakselerasi pembangunan Jawa Barat. Kemampuan itu ada pada Kang Emil (Ridwan Kamil), untuk itu Nasdem akan secara resmi mendeklarasikan dukungan kepada Kang Emil," ujar Johnny melalui pesan singkat, Rabu (15/3/2017).
Deklarasi nanti, kata dia, hanya akan dilakukan oleh Nasdem. Namun demikian, menurut Johnny, Nasdem terus melakukan komunikasi politik dengan partai lain.
Hal itu pasti dilakukan mengingat Nasdem hanya punya lima kursi di DPRD Jawa Barat.
Sedangkan syarat untuk mengajukan calon gubernur, partai politik harus memiliki 20 persen kursi di DPRD atau 25 persen suara sah di provinsi tersebut. sumber kompas.com

Dedi Mulyadi tak Anggap Ridwan Kamil Sebagai Saingan Pilgub Jabar

Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil/DOK PR
Nama Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi saat ini tengah digadang-gadang untuk maju dalam pemilihan Gubernur Jawa Barat pada tahun 2018 mendatang.
Meski dua nama ini terlihat ramai dibicarakan media, Bupati Purwakarta yang juga Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi mengaku tidak menganggap Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang sudah diusung oleh Partai Nasdem itu sebagai saingan.
"Saya tidak memandang bahwa dalam politik itu ada saingan. Kenapa harus disebut saingan? Faktanya, semua berbuat kebaikan kepada masyarakat, jadi ini bukan persaingan individu," kata Dedi saat ditemui di Kantor Kementerian Kemaritiman, Jakarta, Jumat 17 Maret 2017.
Menurut pria yang akrab disapa Kang Dedi tersebut, sampai saat ini ia belum mendeklarasikan diri untuk maju dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018, sehingga ia tak merasa bersaing dengan siapapun. "Saya tidak menganggap siapapun sebagai saingan. Apalagi saya belum menyatakan untuk mencalonkan diri," katanya menambahkan.
Budayawan Sunda tersebut menyerahkan keputusan terkait Pemilihan Gubernur Jawa Barat kepada DPP Partai Golkar. Ia sendiri mengaku masih dalam posisi menunggu keputusan dari partai yang menaunginya tersebut. "Kita tunggu saja keputusan DPP seperti apa, kalau saya sih sering menyampaikan, ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, kehendak alam dan kedua kehendak Allah," ucapnya.
Persaingan antara Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil itu sendiri membuat Lembaga Index Politica melakukan analisis tersendiri. Dalam keterangannya, Direktur Eksekutif Index Politica, Denny Charter, menyebut dari banyak nama yang disebut media bakal mengikuti kontestasi Pemilihan Gubernur Jawa Barat, kedua nama tersebut dinilai paling banyak mengundang perhatian netizen.
"Pembicaraan terkait Pilgub Jawa Barat sudah hampir menyamai Pilgub DKI Jakarta yang sudah memasuki putaran kedua ini," ujarnya saat dihubungi, Jumat 17 Maret 2017. Berdasarkan pantauannya, Index Politica mencatat, Share of Voice Ridwan Kamil sebesar 33,74% disusul Dedi Mulyadi dengan 25,01%. Adapun terkait sentimen pembicaraan di media sosial, Dedi Mulyadi unggul dengan angka 30,18;7.62, disusul oleh Ridwan Kamil di angka 15.47;5.12.
Sebaran berita di media online yang tercatat dari keduanya pun terhitung berimbang dengan angka 41,05% untuk Ridwan Kamil dan 31,83% untuk Dedi Mulyadi. Kedua tokoh ini dinilai sukses membangun citra baik bagi daerah yang mereka mimpin. Dedi Mulyadi disebut berhasil membangun Purwakarta menjadi kabupaten artistik, sementara Ridwan Kamil disebut bisa menata Kota Bandung.
"Keduanya punya citra positif," kata Denny.*** sumber pikiran-rakyat.com