Tampilkan postingan dengan label DKI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DKI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 April 2017

Di Putaran Kedua, Pemilih Pilkada Jakarta Lebih Terintimidasi

Spanduk provokatif yang terpajang di Masjid Jami Nurul Islam, Jalan Pondok Randu, RT4/RW2, Duri Kosambi, Cengkareng, Rabu (15/3/2017). [Suara.com/Welly Hidayat]
Komisioner KPU DKI Jakarta Dahlia Umar menyebut Pilkada DKI Jakarta putaran kedua lebih terancam bahaya dibanding Pilkada putaran pertama.
Intimidasi kepada pemilih dengan adanya spanduk bernuansa kekerasan, bukan lagi intimidasi kepada pasangan calon seperti penghadangan.
"Kalau putaran pertama intimidasi ke calon (cagub-cawagub), ada penghadangan. Kalau putaran kedua, ini justru lebih berbahaya karena yang terintimidasi itu pemilih dengan adanya spanduk-spanduk bernuansa kekerasan," ujar Dahlia Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (1/4/2016).
Spanduk-spanduk yang dimaksud yakni tidak menyolatkan jenazah pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat di beberapa masjid.
Maka dari itu, ia menuturkan perlunya ada tindakan tegas bagi pelaku yang melakukan intimidasi kepada pasangan calon ataupun kepada pemilih.Ia menilai intimidasi kepada pemilih atau masyarakat lebih berbahaya karena pemilih tidak mendapat fasiltas keamanan, yang tidak didapatkan oleh pasangan calon kepala daerah. Hal tersebut kata Dahlia tidak boleh adanya kriminalisasi kepada pemilh.
"Itu lebih berbahaya, karena kalau calon (cagub-cawagub) itu dia dilindungi, diamankan oleh polisi, kemana pergi dapat fasilitas keamanan. Kalau pendukung sekadar pendukung, tapi dia nggak boleh dikriminalisasi karena pilihannya," ucap dia.
"Saya kira itu harus ditindak keras, karena kita tidak hanya melayani calon, tapi juga pemilih, namanya kebebasan berekspresi dan kebebasan pilihaan politik itu harus dihormati dan dijaga secara bermartabat," tandasnya. Sumber www.suara.com

Jumat, 31 Maret 2017

Ada Format Baru di Debat Pilgub DKI Putaran Kedua

Jumpa pers di KPU DKI. (Akhmad Mustaqim/detikcom)
Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta akan menggelar debat di pilkada putaran kedua di Bidakara. Ketua KPU DKI Jakarta Sumarno mengatakan debat akan dilakukan pada 12 April dan akan mempunyai format baru.

"Formatnya akan beda. Selama ini rakyat mendengar pemimpin, sekarang pemimpin mendengar masyarakat. Karena itu, dalam debat nanti akan kami hadirkan kelompok-kelompok masyarakat yang independen, tidak berafiliasi, dan tidak dari binaan paslon," kata Sumarno di kantor KPU DKI, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, Rabu (29/3/2017). 

Ia mencontohkan masyarakat yang diundang untuk menyampaikan suara adalah pengusaha kecil, nelayan, guru honorer, dan masyarakat pengguna transportasi umum yang berjubel. Mereka akan menceritakan persoalan keseharian mereka. 

"Itu kita sedang atur formatnya. Kita bentuk tim yang terdiri atas panelis sebagai tim independen. Mereka ini nanti akan menyeleksi kelompok masyarakat yang akan dihadirkan," ujarnya.

Selanjutnya, tema yang akan diangkat pada debat putaran kedua adalah penajaman program yang telah disampaikan saat debat sebelumnya. Sumarno mengatakan hal tersebut perlu dijelaskan lebih lanjut oleh setiap pasangan calon.

"Pada dasarnya hanya menanyakan apa-apa yang sudah disampaikan oleh paslon, seperti kesenjangan sosial dan masalah perumahan. Misal tentang kredit rumah DP nol persen, kartu Jakarta Lansia. Nah, itu seperti apa. Itu nanti mesti diperjelas lagi sama paslonnya," ujarnya.

"Sekarang sedang disiapkan oleh tim kami. Sudah kami bentuk tim ahli yang terdiri atas para ahli perguruan tinggi dan profesional," tutupnya. Sumber detik.com

Selasa, 21 Maret 2017

Anies Baswedan 'Melacurkan Diri' di Pilkada DKI

Anies Baswedan quote
Mengapa saya sebut Anies Baswedan 'melacurkan diri'?
Sejarah mencatat, bahwa teks Soempah Pemoeda dibacakan pertama kali pada waktu Kongres Pemoeda, yang diadakan di Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928.
Namun di Video ini, Anies bilang orang Arab lah yang mendeklarasikan pertama kali pada tahun 1934. Jadi, menurut saudara mantan menteri pendidikan ini bodoh apa pintar sih?
Pantas gak kalau dia dipecat Presiden Joko Widodo dari kursi menteri pendidikan?
Dari sini kita tahu, ternyata nafsu gila terhadap suatu jabatan telah membuat AB 'melacurkan dirinya' dan intelektualitasnya. Semua dilacurkan hanya demi pilkada di DKI Jakarta.
Sangat disayangkan juga statementnya yang cenderung menyudutkan suku Jawa. Kalau boleh kasih saran, jika jadi Arab, jadilah Arab yang cerdas, jangan jadi Arab yang abal-abal di negeri ini.
Indonesia ini milik semua orang yang cinta tanah air dan cinta keberagaman, jadi Indonesia bukan milik para penjilat dan orang2 yang sesat. Dari sini juga kita tahu, bahwa Anies Baswedan adalah ''simbol kesesatan,'' dia sama sekali tak pantas untuk dijadikan panutan.
Silahkan simak videonya dan share, agar tidak banyak lagi saudara kita yang disesatkan olehnya. Sumber FB KataKita

Jumat, 17 Maret 2017

Kata Anies soal Survei yang Sebut Warga Tak Pilih Ahok Meski Puas

Ahok dan Anies di putaran II. (Mindra Purnomo/detikcom)
Survei Median memperlihatkan ada pertentangan jawaban para pemilih soal kompetensi dan pilihan di Pilgub DKI, termasuk tentang Ahok yang disebut memiliki kompetensi bagus tapi elektabilitasnya kalah dari Anies. Cagub DKI Jakarta Anies Baswedan kemudian menyoroti 'anomali' tersebut. 

"Kata survei 70 persen puas tapi nggak mau milih Ahok lagi tuh. Jadi bayangkan saja, program terobosan itu dilaksanakan, maka tingkat kepuasannya akan tinggi lagi," ujar Anies saat ditanya wartawan di kediamannya di Jalan Lebak Bulus Dalam II, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (8/3/2017).

Anies menilai kinerja Ahok, meski minim terobosan, mampu menarik kepuasan masyarakat hingga 70 persen. Mantan Mendikbud itu kemudian yakin, jika pihaknya melakukan program yang penuh terobosan, hal itu akan membuat tingkat kepuasan masyarakat lebih tinggi.


"Wong program terobosan minim aja 70 persen puas. Apalagi kalau pakai terobosan, weh insyaallah akan lebih tinggi lagi, insyaallah," sebut Anies.

Anies menilai warga Jakarta memilih cagub-cawagub yang ada berdasarkan banyak pertimbangan. Untuk itu, pihaknya akan menciptakan program yang mempengaruhi kesejahteraan dan keseharian warga.

"Karena itu, kenapa kita fokus pada lapangan pekerjaan, fokus pada pendidikan berkualitas dan harga terjangkau," ucap Anies.

"Tapi kalau warga ditanya isu apa, pasti punya pandangan. Tapi yang paling terasa dari kehidupan sehari-harinya, itu adalah persoalan ini. Nah kami serius dengan persoalan ini," sambungnya.

Anies juga yakin elektabilitas cagub-cawagub akan sangat terkait dengan persoalan yang dirasakan langsung oleh warga. Elektabilitas, dinilai Anies, bukan soal pandangan yang dimiliki cagub-cawagub.

"Jadi kalau ditanya tentang pandangan, bisa saja pandangannya A, B, C. Tapi bagaimana dia untuk memilih itu yang menentukan. Mana yang menurut pemilih penting untuk kehidupan kesehariannya," pungkasnya. 

Sebelumnya diberitakan, survei Median memperlihatkan 56,3 persen responden mengaku puas terhadap kinerja Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sedangkan 9,3 persen merasa sangat puas, 30 persen mengaku tidak puas, 3,4 tidak menjawab, dan 1 persen sisanya sangat tidak puas.

"Jadi kalau kita lihat ini ada pertentangan. Kalau ditanya siapa yang paling dipandang mampu memimpin Jakarta, jawabannya Ahok. Kompetensinya, yang lebih bagus Ahok. Tapi kenapa kemudian elektabilitas Ahok masih di bawah Anies," tutur Direktur Median Rico Marbun di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Senin (6/3). Sumber detikcom

Selasa, 14 Maret 2017

Para politisi pembelot di Pilgub DKI

lulung titiek ruhut. ©2017 Merdeka.com
Hajatan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta memasuki babak baru. Ajang pemilihan orang nomor satu di ibu kota Jakarta bakal digelar dua putaran. Ada dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta yang bakal bertarung di babak selanjutnya, yakni Basuki Tjahaja Purnama - Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan - Sandiaga Uno.
Partai politik pengusung dan pendukung dua pasangan calon (paslon) ini merapatkan barisan, meracik strategi untuk memenangkan jagoannya. Lobi-lobi petinggi partai juga dilakukan untuk menambah kekuatan. Namun tetap saja ada kader partai, politisi yang membelot dan membangkang. Akibatnya membuat petinggi partai geram. Sanksi hingga ancaman pemecatan pun menjadi konsekuensi yang harus dihadapi para pembelot.
Abraham Lunggana atau akrab disapa Haji Lulung sudah siap dengan konsekuensi itu. Akhir pekan lalu dia mengatasnamakan Ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan ( PPP) Jakarta mendeklarasikan dukungan untuk pasangan cagub-cawagub Anies-Sandiaga. DPW PPP mendukung Anies-Sandi karena PPP adalah partai yang berazaskan Islam, sehingga mendukung pasangan calon yang beragama Islam.
"Alasan yang paling mendasar adalah partai PPP adalah berazas Islam," ungkap Lulung dalam konferensi pers di kantor DPW PPP, Minggu, (12/03).
Menurut dia, dukungan ini hasil musyawarah kerja wilayah. Dalam musyawarah itu Lulung memutuskan memberikan dukungannya ke Anies-Sandi. "Tidak mendukung Anies-Sandi sama saja kami mengkhianati dan tidak menghormati apa yang sudah diberikan amal itu kepada kami," imbuh Lulung.
Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) hasil Muktamar Jakarta Djan Faridz geram dengan Lulung yang tak patuh perintah partai. PPP kubu Djan Faridz sejak awal memberikan dukungan politik untuk pasangan petahana Ahok-Djarot. Djan langsung memecat Haji Lulung dari keanggotaan sebagai kader PPP. Alasannya jelas, Lulung selalu berseberangan sejak putaran pertama Pilkada DKI 2017.
"Mulai hari ini DPP secara resmi memecat haji Lulung berserta rombongannya di DPRD DKI," katanya saat dihubungi melalui pesan singkat di Jakarta, Senin (13/3).
Lulung sudah diberikan surat peringatan sampai tiga kali. Yang membuat langkah tegas harus diambil Djan, Lulung menggelar deklarasi terbuka menyatakan dukungan pada pasangan calon Anies-Sandiaga.
"Haji Lulung sudah kami beri surat peringatan 1,2, dan 3 sebelumnya. Puncaknya dia mendeklarasikan dukungan pasangan cagub lain yang berbeda dari keputusan DPP, yakni dukung Ahok- Djarot," tegasnya.
Lulung mengatakan, pemecatan tersebut sebenarnya sudah lama diprediksinya. Bahkan, Wakil Ketua DPRD DKI ini mengaku telah meminta berulang kali agar dirinya dikeluarkan dari partai berlambang Kabah tersebut.
"Kalau dipecat kalau saya sudah lama minta dipecat (dari PPP kubu Djan Faridz). Sudah lama dipecat oleh Romi, sudah lama minta dipecat sama Djan Faridz. Djan Faridz bilang sudah jangan deh nanti aja. Nanti nunggu saya ke yang lain," kata Lulung.
Diakuinya, sejak awal tidak bisa sejalan dengan keputusan partai untuk mendukung Ahok-Djarot. Keputusan berbeda pendapat itu karena Lulung mendapatkan dukungan dari masyarakat. "Saya tidak bisa mengikuti keputusan partai dan saya bilang, saya menghormati keputusan partai itu. Kalau saya tidak menjalankan keputusan partai, karena saya membela umat di Jakarta. Karena ada umat suaranya hampir satu juta memilih PPP, makanya PPP pada tahun 2014 itu mendapat suara 10 kursi DPRD DKI dan tiga DPR RI. Salah saya ngebela umat? Orang umat bela kita masa kita enggak konsisten bela umat," tegasnya.
Lulung hanya salah satu dari kisah para politisi pembelot di Pilgub DKI. Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Siti Hediati Haryadi atau Titiek Soeharto juga salah satu tokoh yang membelot dari sikap politik partainya. Di saat partainya berjuang memenangkan pasangan Ahok-Djarot, Titiek Soeharto justru mendukung pasangan Anies-Sandiaga. Dia tidak merasa bersalah dan melanggar aturan partai. Dukungan untuk Anies-Sandiaga murni inisiatif pribadi tanpa membawa atribut partai.
"Saya rasa tidak ada yang salah apalagi melanggar, saya pribadi mendukung pasangan yang menurut agama saya baik. Lagi pula saya enggak mengajak kader lain dan saya enggak pakai atribut partai," kata Titiek di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (2/3).
Titiek menyamakan sikap politiknya itu seperti pengalaman Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono. Saat Agung berbeda sikap dengan keputusan partai soal calon presiden, tidak ada yang mempermasalahkan.
"Sebagai contoh dulu juga Pak Agung Laksono beliau sebagai Waketum ketika Partai Golkar dalam memutuskan calon presiden dua, beliau pilih nomor satu, karena itu hati beliau di sana enggak apa-apalah. Kok sekarang saya dipermasalahkan," tegasnya.
Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono bersuara. Kader yang melakukan tindakan indisipliner harus diberikan sanksi. Namun, dewan pakar tidak memiliki wewenang untuk menjatuhkan sanksi kepada Titiek. Pemberian sanksi kepada kader indisipliner merupakan wewenang dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar. "Siapa yang berhak memberikan sanksi? Adalah DPP. Bukan dewan pakar. Sanksi itu bisa ringan, sedang, dan berat," tegas Agung.
Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto memastikan akan menjatuhkan sanksi kepada Titiek Soeharto. Sanksinya sesuai AD/ART partai. DPP Partai Golkar akan menyerahkan mekanisme pemberian sanksi Titiek kepada Ketua Mahkamah Partai Kahar Muzakir dan Ketua Bidang Organisasi dan Daerah DPP Partai Golkar, Freddy Latumahina.
"Ya tentu kita serahkan pada kepartaian saudara Kahar Muzakir dan saudara Freddy untuk menindaklanjuti," kata Novanto di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (27/2).
Tidak hanya Lulung dan Titiek Soeharto, ada dua nama politisi kawakan yang juga berani menentang sikap partainya. Dua nama Partai Demokrat ini tentu sudah tidak asing di telinga. Adalah Ruhut Sitompul dan Haryono Isman yang berseberangan dengan sikap politik partai. Sejak awal gelaran Pilgub DKI, keduanya mendukung Ahok-Djarot. Padahal langkah SBY dan Demokrat mencalonkan Agus Harimurti Yudhoyono- Sylviana Murni. Dalam ramalan Ruhut, Ahok bakal kembali memimpin Jakarta untuk lima tahun ke depan. Ruhut mengaku sudah sejak lama ramalannya ini tepat. Dia mengklaim dahulu pernah memprediksi Soeharto hingga Jokowi menjadi presiden, dan ramalannya selalu tepat.
"Saya kalau meramal tidak pernah salah, dulu ramalan presiden ke depan tepat semua. Buktinya saya sudah sejak lama meramal Soeharto, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jokowi akan menang. Ahok tentu akan menang juga," kata Ruhut di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Senin (21/9).
"Siapa pun tidak ada yang bisa lawan Ahok, bukan hanya kader kami. Saya timses Ahok, itu sikap saya secara pribadi. Dulu Pilpres Demokrat dukung Prabowo, saya dukung Jokowi," beber Ruhut.
Ruhut pun selalu berada di garda terdepan dan membela mati-matian Ahok. Termasuk saat Ahok digoyang kasus dugaan penistaan agama. Dia menilai, lawan politik Ahok selalu mencoba menjatuhkan karena ketakutan. Bahkan Ruhut mulai berani menyindir SBY. Ruhut menegaskan SBY yang menjabat sebagai ketua umum Partai Demokrat ini tidak bisa mengintervensi proses hukum atas kasus yang menjerat Ahok. Apalagi, dia meyakini Ahok bakal memenangi persaingan di Pilgub DKI.
"Sekarang dia (SBY) mau intervensi apa? Presiden sekarang Jokowi kan bukan dia kan? Enggak, enggak, enggak, aku egp (emang gue pikirin), Ahok pasti menang," katanya.
Ruhut tidak sendiri. Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Hayono Isman, juga memutuskan mendukung Ahok-Djarot. Dia menilai, dari ketiga pasangan yang akan bertarung di Pilgub 2017, hanya Ahok - Djarot lah yang menurutnya sudah siap. Pasangan lain terkesan dipilih secara mendadak, termasuk Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni yang diusung oleh Partai Demokrat.
"Rakyat DKI butuh kepemimpinan model Ahok. Yang saya lihat secara konkret beliau tidak hanya melayani dengan hati, tapi beliau membangun sistem pelayanan yang hebat sehingga berpeluang besar memberantas korupsi dan menghargai kerja keras birokrasi DKI Jakarta," ujarnya dalam jumpa pers di Posko Muda Mudi Ahok, Gedung Djakarta Theater, Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (24/9).
Petinggi Demokrat bereaksi. Nasib keduanya di Partai Demokrat kini tinggal menunggu sang ketua umum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Sekjen Hinca Pandjaitan menandatangani keputusan tersebut. Nasib keduanya di Demokrat berada di ujung pena SBY. Selain melanggar kode etik dalam AD/ART Partai Demokrat, pertimbangan lain pemecatan Ruhut dan Hayono karena juga melanggar Fakta Integritas setiap kader Demokrat. Salah satu yang menjadi latarbelakang pemecatan terhadap keduanya yakni perbedaan sikap dan dukungan dalam Pilgub DKI Jakarta 2017.
"Iya itu salah satunya (karena dukung Ahok- Djarot) Karena bertentangan dengan kebijakan-kebijakan daripada Partai Demokrat," ujar Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat Denny Kailimang.
Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Hermanto mengatakan, Komisi Pengawas (Komwas) Partai Demokrat juga telah menjatuhkan sanksi berat terhadap Ruhut. Sanksi berat dijatuhkan setelah Ruhut tak patuh perintah partai. "Sanksi berat ini berakibat buruk bagi Pak Ruhut. Sanksi berat bisa saja pemecatan dan bisa juga pencabutan dari anggota DPR," jelasnya.
Ruhut Sitompul seolah tak peduli dengan itu. Tak menunggu dipecat, Ruhut justru menyerahkan surat pengunduran diri sebagai anggota DPR dari Demokrat pada Kamis (10/11/16). Ruhut mengatakan, surat pengunduran akan ditujukan kepada sejumlah pihak, di antaranya Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua DPR Ade Komarudin hingga Ketua MPR Zulkifli Hasan serta Presiden Joko Widodo.
"Ya, tanggal 10. Udah, udah dibikin suratnya. Sampaikan dong kepada semua yang berkaitan dengan aku. Kepada Ketum partai, Ketua fraksi, Ketua DPR, Ketua MPR, Ketua fraksi MPR, sudah itu kepada Presiden," kata Ruhut saat dihubungi, Kamis (10/11).
Dia mengaku belum mengetahui respon dari SBY terkait pengundurannya sebagai anggota dewan. "Ya aku enggak tahu, kan aku sudah bilang aku mundur. Enggak tahu prosesnya kalau dia nggak setuju, memang kalau menurut MD3 harus ada surat dari dia kepada apa. Ya sabar, kita tunggu saja," ucapnya. Sumber Merdeka.com

Ketika Buah dari Narasi Kampanye Anies Tidak Lagi Manis

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (Sumber: CNNIndonesia).
Bagi saya, narasi kampanye Anies sudah mulai tak elok. Dengan berjalannya pilkada DKI Jakarta memasuki putaran kedua, jalan panjang ini malah makin menampakkan sikap kontradiktif dari kubu Anies sendiri. Salah satu kontradiksi ini adalah pernyataan Anies berkenaan jangan mencampur adukkan politik dengan agama. Dalam menyikapi pernyataan kosong ini, saya mencoba menyegarkan kembali ingatan kita tentang video rekaman Anies yang sedang berkampanye di salah satu Masjid pada putaran pertama. Berikut ini saya tampilkan rekaman tersebut:
Anies Minta Urusan Politik Tak Dicampurkan dengan Agama – Kompas.com
Video tersebut direkam oleh simpatisan Anies sendiri, dan diperkirakan berlokasi di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta. Nampak jelas sekali Anies sedang berkampanye, mulai dari pesan hingga formasi jari membentuk angka tiga, sesuai dengan nomor urut pilkada Anies-Sandi. Dan kejadian ini sudah terjadi sedari putaran pertama berlangsung.
Video ini cukup untuk menjadi saksi bahwa Anies itu mencla-mencle. Pagi kedele, sore tempe. Seharusnya, kalau seorang akademisi seperti Anies konsisten untuk tidak mau mengaduk agama ke dalam pilkada, ia selayaknya mengerti bahwa tidak layak untuk berkampanye di dalam rumah ibadah untuk urusan politik praktis. Ini pun sebenarnya sudah menyalahi aturan Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016 mengenai pemilihan kepala daerah. Tapi, adakah sanksi untuknya selama ini?
Polemik Pelarangan Shalat bagi Jenazah Pemilih Paslon Nomor Dua
Sebenarnya spanduk-spanduk provokatif dan pemecah belah yang dapat menciptakan konflik horizontal ini sudah lama beredar. Anies melalui jejaring basis massanya seperti PKS pasti sudah lama tahu tentang berita ini dan dapat bersikap jauh lebih cepat untuk menghentikan politisasi agama seperti ini. Pertanyaannya, kenapa ia dan kubunya diam? Entah kenapa ia baru mulai bersuara ketika arah kampanye hitam ini sudah mulai menjadi panah yang berbalik arah dan menyerang dirinya. Setidaknya sudah tersebar beberapa foto di sosial media yang menangkap momen beberapa orang berpose dengan tiga jari. Bahkan ada yang berpakaian “salam bersama”  ala timses Anies-Sandi. Berikut ini beberapa fotonya:
Para pendukung Anies-Sandi dan Spandung Larangan Shalat Jenazah Pendukung Ahok. (Sumber: Penelusuran Google.com)
Para pendukung Anies-Sandi dan Spandung Larangan Shalat Jenazah Pendukung Ahok. (Sumber: Penelusuran Google.com)
Bagaimana pun, sulit untuk tidak mengaitkan tindakan fanatisme sempit dari politisasi keagamaan ini dengan kelompok massa dari paslon nomor tiga. Dengan melihat komposisi dari kelompok pendukung Anies, juga foto yang tersebar, tidak sulit menarik kesimpulan bahwa aksi rasis ini digerakkan oleh kubu mereka. Kita harus mengkhawatirkan sikap dua muka seperti ini dari calon pemimpin kita. Di depan mengatakan tidak, tapi di belakang bermain yang tidak-tidak.
Saya sangat menyesalkan sikap Anies dan pembiarannya. Padahal dahulu Anies terkenal dengan jargon “Orang baik tumbang bukan hanya karena banyaknya orang jahat, tetapi karena orang-orang baik lainnya diam dan mendiamkan”. Ketika Anies harus menyatakan perang terhadap isu SARA dan intimidasi, dia malah merangkul kelompok yang paling rasis seperti FPI. Juga tidak jarang ia malah terlibat langsung dalam menaikkan suhu intimidasi di kalangan massa pendukungnya. Jadi sebenarnya Anies ini orang baik yang sedang “diam dan mendiamkan” atau sudah menjadi bagian dari “orang jahat”-nya?
Kata-kata Motivasi dari Anies (2014).
Anies yang Sudah Menjual Segalanya demi Kuasa
Anies-Sandi dan segenap timses yang bergerak di belakang mereka bisa saja terus memojokkan kompetitor mereka. Tetapi sekarang semua kampanye buruk tersebut malah berbalik menghilangkan simpatik kepada kubu Anies sendiri. Tidak ada yang tersisa tentang segala gagasan elok yang pernah ia lontarkan. Semua itu sekarang tinggal rongsokan.
Tidak ada tenun kebangsaan, tidak ada politik santun, apalagi soal festival gagasan. Dari dulu hanya ngotot soal KJP Plus yang tidak berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Juga rumah DP 0 rupiah yang cicilannya pasti akan mencekik masyarakat kalangan menengah ke bawah. Hanya dengan ngotot bahwa program ini pasti jalan, kalangan bawah diiming-imingi dengan apa yang tidak bisa mereka raih. Lagi-lagi hanya janji yang hanya akan membuat warga makin pedih dan gigit jari nanti.
Alih-alih memperbaiki tawaran-tawaran manis mereka, setiap kritik dan kepedulian sosial terhadap politik demokratis yang sehat malah diresponi dengan ngeles dan bermain sebagai korban. Dalih mereka tak jauh-jauh dari “Kami di-bully”, “Program terobosan kami diserang”, dan lain sebagainya. Padahal masyarakat tidak bodoh. Kami bisa mengerti ke arah mana dampak dari program-program tak jelas ini.
Dengan terus berputar pada penjelasan yang itu-itu saja, mereka telah merendahkan intelegensi dari warga pemerhati politik yang juga peduli pada demokrasi negeri ini. Mas Anies dan Mas Sandi, tolonglah berhenti membodohi kami. Kami ini saudara sebangsa dan setanah air dengan anda. Kenapa hanya demi kursi kuasa, anda tega mempermainkan kami?

Akhir kata dari saya bagi para pembaca (Seword). Kita harus terus menyuarakan stop politisasi agama, stop cara-cara politik yang hanya mengedepankan citra, juga stop komunikasi politik dan narasi kampanye yang membodohi warga. Hentikan juga pesan-pesan politik yang memecah belah bangsa serta bermuatan fitnah. Kami bukan orang bodoh, kami bisa membaca pesan-pesan tersirat dari kalimat-kalimat anda berdua. Dan itu terkadang, maaf saja, menjijikan. Oleh Nikki Tirta (sumber seword.com)